Lewat Revolusi Digital, Indonesia Bisa Munculkan Juara

World Economic Forum on ASEAN. (Istimewa)

Phnom Penh – Revolusi digital tidak hanya membantu para pebisnis berbasis teknologi untuk melakukan lompatan, tapi juga bisa menjadi juara di pasar domestik maupun luar negeri.

Patrick Walujo, co-founder, managing partner, dan anggota komite investasi Northstar Advisors Pte Ltd menjelaskan, pebisnis di Asia Tenggara memang tidak bisa mengejar ketertinggalan di manufaktur, industri, yang tetap dikuasai perusahaan-perusahaan dari Asia Timur dan multinasional. Di sana ada kemampuan teknikal, sistem pendidikan yang mumpuni, sehingga manufaktur dan kemampuan teknikal bisa maju.

Negara seperti Indonesia, ujar dia, membutuhkan waktu lama untuk membangun ekosistem industri dasar, apalagi untuk mengejar para raksasa industrinya. Tapi, ada peluang untuk melompati ketertinggalan itu dengan digital, karena di bidang ini ekosistemnya unik. Batasannya adalah otak, imajinasi, kerja keras, dan juga gairah.

“Untuk pertama kalinya ada peluang bagi ASEAN untuk menjadi juara. Kita tidak bersaing dengan Jepang, Jerman, atau Amerika Serikat, tapi menemukan para pelaku lokal untuk menjadi juara. Selain investor, saya juga orang Indonesia dan sangat ingin ada yang menjadi juara dari Indonesia, baik di dalam negeri maupun di kawasan,” tutur Patrick, dalam sesi diskusi panel di World Economic Forum (WEF) on ASEAN 2017 di Phnom Penh, Kamboja, Jumat (12/5).

Ia juga menjelaskan, sebagai investor pihaknya membangun aliansi di seluruh dunia. Tendensinya hingga saat ini masih dengan AS, khususnya dengan perusahaan-perusahaan teknologi di Lembah Silikon, atau dengan Jepang.

Pihaknya, lanjut Patrick, juga sudah membangun aliansi dengan para pelaku di Tiongkok, India, bahkan Vietnam. Northstar membantu para pebisnis muda untuk mendapatkan konektivitas ke informasi dan kepakaran yang dibutuhkan.

“Juga untuk memetakan apa yang terjadi di kawasan lain. Jika di ASEAN ada masih ingin membuat search engine lalu mau bersaing dengan Google, itu tidak realistis. Tapi kalau jeli melihat konsumen dan kondisi lokal, itu bisa menjanjikan. Karena mereka tahu permasalahan, mengalaminya setiap hari, memahami pasarnya,” tutur Patrick.

Ia mengungkapkan, di Indonesia saat ini sudah ada tiga unicorn. Istilah ini mengacu pada perusahaan yang baru berkembang (start-up) dengan kapitalisasi di atas US$ 1 miliar, biasanya di sektor teknologi dan aplikasi.

“Ada Gojek, lalu Traveloka yang memimpin di Indonesia dan Thailand, jadi mereka pemain regional pertama dari Indonesia. Dan ketiga adalah Tokopedia, yang leading di e-commerce,” sebut Patrick.

Di level bawahnya lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan seperti itu, termasuk yang berkiprah di sektor teknologi keuangan atau dikenal dengan fintech. Yang cukup menarik juga, lanjut Patrick, mereka mulai menarik talenta luar negeri untuk bermitra dan mengembangkan teknologi-teknologi baru.

Patrick mengaku selaku investor cukup terkejut dengan aktivitas para start-up di Indonesia. Yang lebih mengejutkan lagi adalah kualitas mereka.

Jika dari sisi regulasi dan ekosistem, Singapura memimpin karena di sana banyak uang, insentif, maupun dukungan penuh dari pemerintahnya.

“Di Indonesia, yang sukses itu karena antara lain tahan banting dan memahami pasarnya. Seperti Tokopedia, Gojek, atau Grab,” kata dia.

Menurut Paul Bragiel, founding partner Bragiel Brothers, orang pintar itu bertebaran di seluruuh dunia. Pihaknya selaku investor beruntung dapat membantu mereka yang belum mendapatkan akses, sumber daya, dan keuangan.

“Sejak beberapa tahun lalu, banyak pengusaha berkualitas ini. Mereka harus saling bantu dan mendukung, bekerja sama, berdiskusi untuk maju bersama. Mereka bisa belajar satu sama lain dan menghindari kesalahan-kesalahan tidak perlu,” ujar dia.

Tan Hoo Ling, co-founder Grab mengatakan, di Asia ada banyak talenta muda di bidang teknologi dan aplikasi tapi belum banyak yang terekspos dan mendapatkan kesempatan untuk mengasah kemampuannya.

“Karena teknologi tidak secara alami muncul di sini. Bicara teknologi orang pasti menyebut Lembah Silikon, atau sekarang ditambah Beijing dan Mumbai. Tapi kota-kota seperti Singapura, Jakarta, Kuala Lumpur, bisa memanfaatkan kelebihan yang ada untuk mengatasi dan melompati kekurangan,” ujar dia.

Peran Pemerintah
Markus Lorenzini, presiden direktur dan CEO Siemens Ltd Thailand, Myanmar, dan Kamboja, mengatakan bahwa di ASEAN baru Singapura yang sudah maju untuk start-up. Sedangkan negara-negara lain masih tertinggal, baik dari sisi infrastruktur, pendidikan, hingga penguasaan bahasa Inggris. Karena menurut dia, digitalisasi, duniaa baru untuk konektivitas dan lintas batas harus bicara dengan satu bahasa yang sama.

“Masih ada limitasi. Pemerintah harus memberikan penekanan pada kurikulum pendidikan, bahasa Inggris, dan menggulirkan inovasi serta digitalisasi yang tidak alami ada di negara-negara ini,” kata dia.
Patrick mengatakan, pemerintah sebaiknya tidak mengekang. Karena aktivitas bisnis seperti ini bergerak sangat cepat dan melampaui kemampuan pemerintah untuk mengaturnya.

“Pemerintah Indonesia suportif dan mengakui sektor digital ini penting. Tapi kalau dilihat dari industri per industri, sebagai pemain harus bekerja sama dengan pemerintah untuk meregulasi dan membantu untuk melihatnya dari banyak sisi,” tutur dia.
Yang perlu diperhatikan juga oleh para pelaku adalah bagaimana kemunculan mereka yang begitu cepat tidak mematikan para pelaku bisnis tradisional.

 

sumber beritasatu.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.